Cerpen

CERITA DI PAGI BUTA

Pagi itu, ketika mentari baru naik diatas bukit, angin dingin pun berhembus, sang surya yang mulai menghangat cahanyanya, menyinari sebuah kota kecil di penghujung pulaun jawa, yaitu Depok.

Ditengah-tengah kesibukan kota, tepatnya di pinggir sebuah jalan, nampak seorang siswa SMA yang sedang duduk lesu menunggu bis yang akan mengantarnya ke sekolah.

Lama banget sih bisnya datang” ketusnya dalam hati. “ Eh itu dia Bisnya” ucapnya.

Lalu iapun berdiri sementara bis datang menghampirinya. Setelah ia masuk dan mendapatkan tempat duduk, tepat di belakang Pak Supir, iapun mulai menghembuskan nafas leganya karena kesal dari tadi menunggu kedatangan bis ini.

Seperti biasanya, sebuah headset menempel di telinganya. Sebuah lagu dari band asal malaysia ia putar. Sebuah tas biru yang dikenakannya, selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Sambil menunggu perjalanan menuju sekolahnya yang agak jauh, ia pun membuka sebuah buku novel yang sedang laris waktu itu.

Ditengah-tengah rasa santainya yang dimanjakan oleh lagu dan cerita novel, tiba-tiba ada seorang anak yang menghampirinya.

“Permisi kak, mau beli dagangan saya?” Ucap anak itu.

“Ah enggak, terima kasih” balasnya.

“Ayo kak tolonglah saya, dari kemarin saya belum makan, dan kalo hari ini barang dagangan saya tidak laku, saya takut dimarahi bos saya” Ucap anak itu memohon.

Sejenak ia berfikir dulu,

Aku hanya punya uang sepuluh ribu, inipun buat ongkos pulang pergi Rp 5.000 dan buat bayar uang kas kelas Rp 4.000”. Ucapnya dalam hati

Lalu iapun melirik barang dangangan anak itu.

“Baiklah, kalo ini, berapa harganya?” Ucapnya sambil menunjuk sebuah minuman mineral.

“Kalo yang ini harganya Rp.1500 rupiah”jawab anak itu.

Lalu iapun berfikir kembali.

Kalau ini ku beli, uang buat bayar kas pun jadi kurang, tapi kasihan aku lihat anak ini, biarlah, uang kas bisa dibayar besok aja, yang penting hari ini aku bisa sedekah” ucapnya pula dalam hati.

“Udah ini saja satu, ini uangnya” ucapnya.

Lalu iapun mengeluarkan uang dua ribu rupiah dari sakunya.

“Maaf kak, gak ada kembaliannnya” ucap anak itu.

“Ya udah, ambil aja kembaliannya” ucapnya.

“Terima kasih kak” ucap anak itu dengan bahagianya.

Setelah itu, iapun membuka tutup botol air mineral itu dan meminumnya.

“Alhamdulillah, ternyata airnya seger” Ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Lalu iapun melanjutkan kegiatannya membaca novel dengan diiringi musik favoritnya.

Setelah itu datanglah seorang pengamen. Pengamen itu mendendangkan sebuah lagu tepat disampinya. Guna menghormati si pengamen tersebut, iapun melepaskan headset yang dikenakannya itu.

“Permisi mas” ucap pengamen itu ketika selesai menyanikan sebuah lagu sambil menyodorkan sebuah kantong plastik kepadanya.

Duh, giaman nich, gak ada uang receh” ucapnya dalam hati.

Tanpa pikir panjang, iapun mengeluarkan uang seribu rupiah dari sakunya dan memberikannya kepada pengamen tersebut.

“Makasih mas” ucap pengamen itu dengan tersenyum.

Akhirnya bispun sampai ketempat tujuannya, yaitu sekolah SMA negri ternama di kota itu. Lalu iapun turun dari bis itu dan berjalan menuju sekolah yang melewati sebuah ganng yang cukup besar.

“Eh iya, Bolpointkukan mau habis. Harus beli dulu nich”. Ucapnya dalam hati yang lesu walau pun suasana pagi masih menemaninya.

Lalu iapun menghampiri sebuah warung kecil.

“Permisi, mas beli bolpoint satu” Ucapnya.

“Kebetulan mas, yang ada tinggal Bolpoint ini, harganya Rp 1.500” Ucap penjaga warung.

“Gak apa-apa” ucapnya sambil mengeluarkan uang dua ribu di sakunya.

“Maaf mas, gak ada kembaliannya” Ucap penjaga warung itu.

“Ya biarlah, sisanya dibelin ini aja” Ucapnya sambil memegang sebuah snack kacang.

“Terima kasih mas” Ucap penjaga warung itu.

Lalu iapun duduk sebentar disebuah bamgku yang ada di depan warung itu untuk menikmati snack kacang yang baru dibelinya.

“Eh, apaan ini, masa kacanggya diikat sama solasi” Ucapnya dalam hati. “Eh jangan-jangan ini ada hadiahnya” tambahnya.

Lalu iapun membuka solasi itu dengan semangatnya, dan ternyata dalam kacang itu tersimpan selembar uang yang dilipat berwarna hijau.

“Hah, uang dua puluh ribu” ucapnya sadengan berbahagia.

Maka iapun tersungkur ke tanah untuk melakukan sujud syukur atas anugrah yang telah ia terima dari Allah swt.

“Hei Diki! kamun lagi ngapain” ucap seseorang

“Eh Jaka, lihat aku barusan dapat uang dua puluh ribu dari snack kacang” Ucapnya yang ternyata bernama Diki.

“Wah hebat kamu, kok kamu bisa beruntung begitu” Tanya temannya yang bernama Jaka.

Lalu Dikipun menceritakan kejadian yang dialaminya selama didalam bus.

“Wah ternyata, dengan bersedekah, Allah akan memberikan balasan yang berlipat, itu pun didunia, apalagi kalau di Akhirat nanti” Ucap jaka yang merasa kagum dengan sifat temannya itu.

dapatkan pula cerpen lainnya di kisahdancerpen.blogspot.com

1 Comment Add your own

  • 1. hary  |  Mei 12, 2009 at 10:40 am

    ass
    kaifa halk a jirdi,emut knh ka abi?lmun hnteu kacida teuing,a cerpen na sae tapi kirang pnjang,ngadamel atuh nu lngkung pnjang ngrah jnten novel kawas habiburahman el-shirazi

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed